Membangun Karakter Siswa di Era Milllenial

           Membangun Karakter Siswa di Era.                                       Milllenial

              Sebelum kita membahas tentang bagaimana cara membangun karakter siswa di era millenial, alangkah lebih baik kita mengetahui terlebih dahulu apa sih generasi di era millenial itu ? Jadi, saya mengambil referensi dari Wikipedia bahwasannya generasi   “ Millenial” atau lebih di kenal dengan sebutan Gen Y adalah para atau sekelompok generasi Baby Boomers atau juga disebut “ Echo Boomers “ ( peningkatan bebas ). Di sebut “ Echo Boomers “, karena ada peningkatan kelahiran yang terjadi di era itu yakni antara 1980-2000 an. Karakteristik generasi millenial sendiri ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Millenial lebih terkesan individual, cukup mengabaikan masalah politik, fokus pada nilai-nilai materialistis, dan kurang perduli terhadap sesama. Nah, diatas merupakan sisi negatif dari Era Millenial, sisi positifnya adalah generasi ini mempunyai pemikiran yang terbuka, memiliki kepercayaan diri yang bagus, mampu mengekspresikan perasaannya, pribadi liberal, optimis, dan menerima ide-ide dengan cara-cara hidup.
               Jadi, saya dapat menyimpulkan bahwa, generasi millenial adalah generasi muda yang fanatik dengan teknologi seperti gadget, pc, dsb. Yang dengan kemajuan teknologi tersebut generasi ini dapat lebih kreatif dalam berekspresi. Seperti contohnya bisa menjadikan IG atau Instagram sebagai mata pencaharian seperti endorse, online shop, dsb. Contoh lain yang sekarang lagi booming adalah youtubers dimana semakin banyak subscribe maka akan semakin banyak penghasilan yang di dapatkan. Nah seperti yang saat ini saya gunakan dalam mengekspresikan opini saya yaitu blog, juga merupakan contoh dampak dari adanya era millenial. Dengan semua kemajuan teknologi pada era millenial ini jangan mengira bahwa tidak ada dampak negatifnya. Ada bermacam-macam dampak negatif di era millenial seperti yang sudah saya singgung tadi di atas. Selain itu ada dampak yang lebih ekstrem lagi jika kita tidak dapat menggunakan teknologo itu dengan baik, kita justru akan menjadi korban dari era millenial itu sendiri. Bahwasannya kehati-hatian itu sangan diperlukan agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan diri kita atau bahkan sampai merusak moral dan karakter yang ujung-ujungnya akan menjadi masalah yang menghambat kemajuan bangsa.
                Berbicara soal generasi bangsa, tentu tidak lepas dari siswa atau pelajar yang akan meneruskan atau bisa dikatakan sebagai pemegang tongkat estafet bangsa pada masa yang akan datang. Nah, generasi yang seperti apa yang dibutuhkan bangsa untuk mencapai kemajuan ? Sebelum kita mencari solusi bagaimana membentuk karakter siswa di era millenial, tentu kita mempunyai target seperti apa siswa atau pelajar yang patut di jadikan generasi penerus bangsa ?
                 Perlu diketahui bahwa saat ini bangsa kita “ Indonesia “ mempunyai berbagai macam persoalan yang harus di pecahkan seperti dikutip dalam https://www.google.co.id/amp/s/fitrirahmayanti99.wordpress.com/2013/07/31/masalah-masalah-yang-dihadapi-bangsa-indonesia/amp/. Bahwasannya masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini antara lain : Pergaulan bebas, Trafficking atau jual-beli manusia, KDRT ( Kekerasan Dalam Rumah Tangga ), Pornogragi, Pancasila dan Kapitalisme, Korupsi, Neoliberalisme, Konflik Horizontal atau biasa di sebut SARA, Kontrak yang merugikan negara, dsb.
                   Di sini saya akan menjelaskan seperti apa generasi yang dibutuhkan bangsa atau katakanlah kriteria penerus bangsa, per sub pembahasan masalah di atas sebagai contoh.
1. Generasi yang dapat membentengi dirinya dari pergaulan bebas yang prakteknya saat ini sudah merajalela. Seperti praktek aborsi yang diakibatkan karena kehamilan pra nikah.
2. Generasi yang berperi kemanusiaan dan saling menghargai Hak Asasi Manusia.
3. Meskipun KDRT merupakan permasalahan yang tergolong ke dalam lingkup orang dewasa, namun kita hidup di negara hukum dan harus saling menjunjung tinggi nilai kemanusiaan seperti yang sudah saya jelaskan tadi pada point ke 2. Karena kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya melibatkan suami dan istri tetapi anak anak mereka menjadi korbannya.  Bahkan seperti yang kit ketahui saat ini marak sekali pernikahan yang masih di bawah umur.
4. Generasi yang mempunyai benteng iman yang kuat untuk menghindari maraknya situs pornografi yang merajalela di mesin pencarian. Bahwasannya dampak dari pornografi akan mengarahkan kita kepada pergaulan bebas dan rusaknya moral dan pola pikir generasi bangsa.
5. Generasi yang dapat memahami serta mengamalkan isi dari pancasila yang merupakan ideologi bangsa, sehingga dengan generasi suatu bangsa itu mengerti ideologi atau jati diri bangsanya dia akan mudah mengamalkannya yang akan membawa kepada kemajuan bangsa.
6. Korupsi merupakan permasalahan klasik di Indonesia, seakan-akan sudah menjadi budaya dan pelakunya seakan-akan tidak pernah jerah. Generasi yang anti korupsi merupakan karakteristik idaman sebagai penerus bangsa.
7. Generasi yang mampu memahami perekonomian yang baik untuk menciptakan kestabilan ekonomi bangsanya.
8. Generasi yang saling menghormati atau menghargai perbedaan seperti ras, agama, warna kulit, budaya, dsb. Karena negare kita Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam dan ragam perbedaan yang berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga dapat membentuk bangsa yang bersatu dalam kesatuan yang utuh atas segala perbedaan.
                  Contoh di atas merupakan beberapa krieria atau karakter yang di butuhkan bangsa untuk mencapai bangsa yang maju. Nah, dari berbagai persoalan pasti harus ada solusi yang bisa memecahkan persoalan tersebut. Tentu sebuah pemecahan masalah itu tidak mudah perlu tahapan yang harus di tempuh. Selanjutnya, kita akan membahas point utamanya yaitu bagaimana cara membentuk karakter siswa atau karakter generasi bangsa di era millenial.
                   Menurut pandangan saya, yang terpenting dalam membangun karakter siswa adalah pendidikan . Pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang formal dan bisa dikatakan menjadi rumah belajar siswa. Nah, dari pendidikan sekolah tersebut selain mempelajari tentang ilmu-ilmu yang bersifat umum seperti MTK, IPA, IPS, dsb. Perlu di selipkan adanya praktek penanaman karakter bangsa dalam diri siswa, sehinngga karakter bangsa itu dapat melekat pada diri siswa dan tidak hanya menjadi sebuah teori saja, dan tidaj mudah terpengaruh oleh budaya-budaya bangsa lain. Contoh, seperti perlu adanya mempelajari gerak tari atau seni berbagai macam dan ragam suku di Indonesia dan lain sebagainya. Selain praktek itu, juga perlu di selipkan penanaman moral seperti yang sudah di lakukan oleh mentri pendidikan dalam K13 yaitu dengan penambahan nilai ke Religiusan untuk mencapai siswa yang berakhlakul karimah.
                 Selain itu siswa juga perlu diperkenalkan dengan kemajuan teknologi sehingga mereka dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan sebaik mungkin dan di samping pengenalannya pendidik juga harus mengenalkan dampak-dampak negatifnya, karena apa ? Karena dengan kita mengenalkan dampak negatifnya, siswa dapat memilah mana yang baik dan mana yang perlu di hindari.
                 Selain pendidikan sekolah juga perlu adanya pendidikan lingkungan terutama di rumah, kerja sama antara pendidik dan wali murid untuk menanamkan moral atau karakter yang baik. Seperti pengawasan siswa saat bermain gadget di rumah, menjaga tingkah laku yang baik karena apapun yang pendidik lakukan baik itu guru maupun orang tua atau bahkan lingkungan juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter seorang siswa. Dengan adanya kerja sama yang baik maka akan lebih mudah untuk mendidik siswa menuju karakter yang baik. Dan tentu semakin baik karakter siswa maka akan semakin baik pula nasib bangsa di masa yang akan datang.

Komentar